BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Halaman

Senin, 04 Juli 2011

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta ^_^

By : Ust. M.Fauzil Adhim

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu. lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, “Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?”

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ‘Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., “Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,” kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ‘kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk isti, Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.

Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya. Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda

Sumber :
http://menikahyuk.multiply.com/

Minggu, 03 Juli 2011

Sepotong Cinta Dalam Diam

Perempuan,

Kau pasti tahu sakitnya cinta yang tak terkatakan. Cinta yang hanya mampu didekap dalam bungkam.

Kata orang bahkan diam berbicara. Tapi menurutku, hal itu tidak berlaku dalam cinta. Sebab cinta harus diekspresikan dan pantang dibawa diam. Sebab cinta harusnya dinyatakan, lalu dibuktikan dengan sikap. Begitu seharusnya cinta.

Tapi aku memang tidak punya pilihan.

Maafkan!

***

hmmm...tak bosen2 aku baca cerpen ini. mbak Asma emang hebat deh...

Minggu, 26 Juni 2011

10010 01001 01110 00100 10101

01011 10101 10010 01001 01110 00100 10101

00010 00001 00111 00001 01001 01101 00001 01110 00001

00101 01110 00111 01011 00001 10101

01101 00101 01101 00010 10101 01010 10101 01011

01011 00101 10100 01001 01011 00001

01011 10101 01101 00101 10010 00001 01010 10101 01011

01011 10101 10010 01001 01110 00100 10101

00010 00001 00111 00001 01001 01101 00001 01110 00001

01011 00001 10101

01101 00101 01110 00111 00001 10011 01001 01000 01001

01011 00101 10100 01001 01011 00001

01011 10101 00010 00101 10010 10011 00101 00100 01001 01000


Gerlong, Rajab 1432

Entahlah tiba-tiba saja malam ini ingin bermain biner.

Clue :
Biner - Desimal - Alfabet Huruf
(maka akan tertulis sebuah lirik bang Haji Rhoma Irama ^^)



Selasa, 14 Juni 2011

Tragedi Akhir Malam

Malam tak lagi larut, tapi masih belum benar-benar kembali keperaduanya. Suara binatang malam pun mulai berkurang, berganti dengan ocehan anak ayam & induknya. Sesekali sang jantan pun ikut meramaikan suasana akhir malam.

Tepat di suatu ruangan berukuran 3x4, aku hanya bisa duduk termenung. Entah apa yang membangunkanku sehingga mataku tak lagi bisa terpejam. Sepi. Hanya terdengar suara detakan jarum jam dan ah.. Detakan jantungku pun msih bisa terdengar dengan jelas. Namun tak berselang berapa lama tiba-tiba detak jantungku seakan terhenti, berganti dengan suara langkah kaki yang sangat berat dan tidak teratur. Ada perasaan cemas & takut ketika suara langkah itu semakin dekat, dekat, dan.... Teng..Teng.. Oh.. Ternyata tukang ronda. Setiap malam, memang warga di lingkunganku rajin bergiliran melaksanakan ronda. Tingkatkan K3 kata pak RW suatu hari.

Belum hilang rasa kagetku, tiba-tiba saja aku mencium sesuatu. Sesuatu yang samar-samar aku kenal, semakin lama semakin kuat saja baunya, seperti bau kembang. Ya Kembang, kembang yg selalu di pakai untuk...
Ya ampun aku baru ingat tadi sore nenek di samping rumahku bilang, kalo kembang wijaya kusuma yang tumbuh di depan jendela kamarku akan mekar malam ini. Hmm.. Ternyata sudah mekar ya. Bunga yg aneh masa mekar malam-malam.

Perlahan ku dekati jendela kamarku, berharap aku bisa melihat bunga yang baru mekar itu. Ku buka gordennya. Dan... ya ampun, jantungku seakan mau copot, ketika tiba-tiba saja aku melihat sesosok makhluk hitam legam dengan bola mata melotot tajam kearahku, menatapku dengan penuh misteri. Sesekali lidahnya terjulur keluar, kulihat mulutnya mulai brgerak & brsuara.. Tkek...Tkek...
Suara nyaring tokek brgema di dalam kamarku. Entah sudah berapa lama tokek itu bersemayam di belakang lemari kamarku. Mungkin sejak kamar ini jarang ku tempati.

Aku tutup kembali gorden yang tadi sempat kubuka. ku balikan badan. Ah tidur lagi saja pikirku. Baru saja aku melangkah, tiba-tiba knop pintu bergerak dan perlahan pintu terbuka sedikit demi sedikit. Kulihat tangan berbalut kain putih itu memegang knopnya. Ya ampun... Aku tak berani melihat, ku palingkan wajahku ke arah belakang. Berharap pintu itu tertutup kembali. Namun sia-sia saja aku berharap, pintu malah semakin terbuka lebar. Aku mengintip dari kaca kecil yang ada di atas meja belajarku. Kulihat sesosok tubuh berbalut kain putih perlahan brjalan ke arahku. Aku semakin kaget ketika pundaku ada yang menyentuh. Dan terdengar sapaan halus menyapaku, "hmm.. udah bngun ya?"

Perlahan aku mulai berani menengok ke arah belakang. Dan kulihat seorang wanita berdiri di belakangku dengan mukena masih menempel di tubuhnya, wanita yang selama ini aku kenal. Wanita yang biasa aku panggil Ibu. Hmm....ternyata Ibu baru saja hendak melaksanakan sholat malam, ketika tiba-tiba saja dia mendengar suara gorden terbuka dari arah kamarku.

02.30
*Tumben malam ini tidur di kamar , karena biasanya tidur di sofa...

05062011

Aku baru saja selesai sholat shubuh ketika tiba-tiba saja ponselku berdering. Nampak jelas terlihat di layar ponsel tertulis mas bro. Hmm...Dari kakak rupanya. Saat kuangkat tak terlintas sedikitpun pikiran yg macam-macam, aku hanya berpikir mungkin kakak mau mengabarkan kalau dia jadi pulang hari ini. Ternyata dugaanku meleset, ada sedikit musibah yg menimpa kakakku. Putranya sakit. Dan kakak memohon pada ibu, kalau bisa hari ini juga ke Cimanggis. Ada perasaan cemas, khawatir yg kutangkap dari pembicaraan ibu dan kakakku di telpon. Ya aku mengerti. Wajar saja ketika orang tua merasa cemas, merasa khawatir kalau anaknya sakit. Apalagi pasangan baru. Baru punya anak.

Akhirnya ibu pun memutuskan untuk pergi ke Cimanggis. Dan terpaksa aku yang mengalah, aku yang sudah siap untuk balik ke Bandung, terpaksa aku urungkan.

"Baiklah bu, biar aku yg jaga rumah dan nemenin ade. Ibu hati-hati yah d jalan."

"Iya. Jaga rumah ya De, nanti saja balik ke Bandung nya. Ibu harus pergi, kasihan kakakmu. Oiya kalau nasi sudah habis masak aja. Jangan lupa adikmu suruh minum obat biar cepat sembuh." Pesan ibu. Akhirnya kami pun berpisah setelah bis jurusan Bekasi datang.

Dan aku pun hanya bisa berdoa, semoga keluargaku selalu berada dalam lindungan Alloh SWT, diberikan kesehatan dan keselamatan. Aamiin...


Ba'da shubuh di hari Ahad yang mendung.