BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Halaman

Rabu, 27 Juli 2011

Mendengar Musik dan Tertawa Bisa Segarkan Otak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktivitas yang selalu sama setiap hari dapat menimbulkan rasa jenuh dan kebosanan. Akibatnya akan berimbas kepada melemahnya daya konsentrasi. Selain itu, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa otak orang dewasa dapat fokus dan berkonsentrasi secara efektif selama 25 menit, tetapi setelah itu pikiran tidak lagi fokus.

Sibuk bekerja selama seharian cenderung membuat Anda stres dan pikiran menjadi kusut. Khususnya bagi mereka yang berprofesi sebagai penulis dan insinyur yang pekerjaannya secara teratur melibatkan banyak pemikiran. Di saat-saat stres, Anda perlu menyegarkan kembali pikiran, serta mengkalibrasi ulang semua fungsinya.

Berikut trik-trik untuk dapat membantu menyegarkan kembali pikiran Anda:

1. Musik
Musik yang menenangkan sangat bermanfaat untuk sumber daya mental Anda. Jernihkan pikiran Anda hanya dengan duduk sambil hanyut dalam musik yang indah. Jika Anda senang bermain musik, itu sangat baik, segera keluarkan piano tua Anda atau unduh aplikasi musik pada handphone Anda dan mulai mainkan.

2. Olahraga
Ibarat pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Berolahraga secara teratur selain dapat menyegarkan pikiran juga dapat menyehatkan badan.

3. Tertawa
Tertawa adalah obat terbaik untuk menghilangkan kebosanan. Karena, tertawa dan humor melepaskan “endorfin” yang dapat meningkatkan mood serta perasaan bahagia.

4. Melatih mental
Otak Anda senang ditanya dengan sesuatu yang membingungkan. Jadi ketika Anda merasa lelah belajar atau bekerja, cobalah untuk menyelesaikan suatu pertanyaan yang menyenangkan untuk menguatkan otak Anda.

5. Bersosialisasi
Manusia adalah makhluk sosial. Selain menjadi kebutuhan, bersosialisasi juga dapat menjaga agar otak kita tetap segar. Cobalah berhubungan dengan orang-orang baru ataupun menelepon teman lama. Carilah pembicaraan di luar situasi Anda.

6. Tidur pendek
Tak ada yang lebih menyegarkan jika dibandingkan dengan tidur pendek. Segera setelah tidur pendek, Anda akan merasa lebih baik dan lebih bisa menyelesaikan pekerjaan dibandingkan ketika Anda sedang lelah.

7. Hiruplah sesuatu yang berbau enak
Nyalakan lilin beraroma favorit Anda atau hiruplah bau secangkir kopi panas. Karena, dengan menghirup sesuatu yang berbau enak dapat menyegarkan pikiran Anda.

8. Pijat
Pijat adalah cara sempurna untuk meredakan ketegangan dan mengurangi stres. Anda dapat mencoba berbagai jenis pijat pada hari yang berbeda untuk kembali memperkuat diri.

9. Mandi
Mandilah dengar air hangat, karena dapat membuat otot serta pikiran Anda menjadi rileks.

10. Berangan-angan
Untuk sesaat, biarkan imajinasi Anda berkelana seperti saat masa kanak-kanak. Karena hal tersebut juga dapat menyegarkan pikiran sehingga Anda bisa kembali fokus pada tugas di hari-hari berikutnya.

Mulai saat ini, segarkan pikiran dan energi, serta jinakkan stres Anda dengan beristirahat dan melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti di atas. Karena, otak Anda menyukai sesuatu hal yang menggembirakan.

Sumber : TribunNews.com

Jendela Rumah Sakit

Dua orang yang mempunyai penyakit serius menempati kamar yang sama di rumah sakit. Pasien yang satu, setiap siang hari dibolehkan duduk selama satu jam untuk mengeringkan cairan yang ada di paru-parunya. Tempat tidurnya terletak di sebelah jendela satu-satunya di kamar itu.

Pasien yang lain hanya dapat berbaring di atas punggungnya setiap hari. Kedua orang ini berbicara tentang istri, keluarga, rumah tangga, pekerjaan dan keterlibatan mereka dalam tugas-tugas militer.

Setiap siang, ketika pasien yang dekat jendela duduk, ia menghabiskan waktunya bercerita kepada teman sekamarnya tentang semua yang ia lihat dari balik jendela. Teman sekamarnya selama satu jam hidup dalam dunia yang lebih luas. Kegiatan dan warna dunia luar membuatnya lebih bergairah hidup.

Jendela itu menghadap ke taman yang di dalamnya ada telaga yang indah. Angsa dan itik bermainan di atas air sementara anak-anak melayarkan kapal-kapal mainannya. Sepasang kekasih jalan bergandeng tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni seperti pelangi. Pohon tua yang besar menambah indahnya pemandangan. Garis bayangan kota terlihat di kejauhan. Setiap kali pasien yang di dekat jendela menjelaskan semuanya secara indah dan rinci, teman sekamarnya memejamkan mata membayangkan pemandangan itu.

Suatu siang yang hangat, pasien yang di dekat jendela menceritakan parade yang lewat. Meskipun teman sekamarnya sama sekali tidak mendengar suara drum band, tapi ia dapat melihat parade itu dalam pikirannya karena temannya menggambarkannya dengan jelas.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Suatu pagi, perawat yang datang membawakan air untuk mandi mereka mendapati tubuh pasien dekat jendela sudah tidak bernyawa. Ia meninggal dengan penuh kedamaian dalam tidurnya. Perawat yang selama ini telah merawatnya merasa sedih. Ia memanggil karyawan rumah sakit untuk memindahkan mayat itu.

Setelah menganggap layak waktunya, pasien yang lain bertanya apakah ia boleh pindah ke dekat jendela. Perawat tidak keberatan dengan pergantian tempat ini. Setelah merasa bahwa sang pasien telah berbaring dengan nyaman di sebelah jendela, sang perawat pergi meninggalkannya sendiri.

Perlahan-lahan dengan menahan sakit, pasien itu menggunakan sikunya agar tubuhnya naik dan dapat melongok ke jendela. Akhirnya ia bakal melihat pemandangan indah itu dengan mata kepalanya sendiri.

Ia tegangkan badannya lalu perlahan-lahan berputar untuk melihat ke jendela. Betapa kagetnya ketika ia mengetahui bahwa di balik jendela itu hanya tembok belaka. Si pasien lalu menceritakan kejadian yang dialaminya kepada perawat.

“Apa gerangan yang membuat teman sekamarku berbuat demikian?” Tanya si pasien kepada perawat.

“Lelaki itu sesungguhnya buta, tembok yang ada di seberang jendela itu pun tak dapat dilihatnya.” Jelas si perawat. “Mungkin ia ingin membesarkan hatimu.” (Author Unknown)

*
Sumber Buku :
Hikmah dari Seberang oleh Drs. Abu Abdillah Al-Husainy

Resep Obat Penyembuh Dosa

Seorang Badui datang kepada seorang dokter. Orang Badui itu bertanya, “Apakah dokter punya resep obat untuk menyembuhkan penyakit dosa?”

Dokter menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir. Lalu ia menjawab, “Dengarkan resep ini, jika kamu kerjakan maka kamu akan mendapat penyembuhan dari Allah SWT.”

1. Ambillah akar-akar kemelaratan dan jiwa kesabaran.

2. Lalu campurkan dengan bubuk pikiran dan dicampur (kadarnya sama) dengan rendah hati dan kekhusyukan.

3. Kemudian ditumbuk semua dalam lumpang taubat dan dibasahi dengan air mata.

4. Lalu ditempatkan dalam tempat rendah diri kepada Allah dan dimasak dengan api tawakal kepada-Nya.

5. Setelah itu diaduk dengan sendok istighfar sehingga tampak taufik dan kehormatan diri.

6. Kemudian pindahkan ke mangkok cinta dan dinginkan dengan udara kasih sayang.

7. Sesudah itu disaring dengan saringan kesusahan dan ditambah dengan hakikat iman serta campurkan dengan takut kepada Allah.

CATATAN : Teruskan minum obat itu selama hidupmu dan hatimu akan sembuh dari segala keluhan dan akan hilang rasa sakit dosa.

Sumber :
http://filsafat.kompasiana.com/2010/03/15/resep-obat-penyembuh-dosa/

Senin, 25 Juli 2011

Tempat Terindah Adalah Kuburan

Suatu malam Imam Ibrahim bin Adham sedang berada di luar rumah. Seorang serdadu penuggang kuda yang pasukannya berkemah di sekitar tempat itu dan kebetulan mendapat cuti, datang mendekatinya, lalu bertanya, “Hai orang tua, di daerah ini, dimanakah ada tempat bersenang-senang, tempat yang paling indah?”

Ibrahim bin Adham mendongakkan kepala dan balik bertanya, “Tuan menanyakan pendapat saya?”

“Ya.”

“Tempat yang tuan maksudkan itu terletak di sana, di seberang rumah saya,” ucap Ibrahim bin Adham seraya menuding ke arah kuburan.

“Yang mana?” Tanya serdadu itu kebingungan.

“Itu, di seberang sana.”

“Yang mana? Kuburan itu?”

“Ya, betul. Tempat yang paling indah untuk bersenang-senang menurut pendapat saya, adalah kuburan.”

“Kurang ajar,” umpat serdadu itu mendongkol. Tapi ia belum berani bertindak lebih jauh, takut kalau-kalau orang tua itu seorang yang berpangkat tinggi. Jadi ia bertanya,

“Siapakah kamu hai orang tua?”

“Saya hanyalah seorang hamba.”

“Keparat!” hardik serdadu itu sembari menendang.

Kemudian Ibrahim bin Adham diseret ke perkemahannya dan diadukan kepada atasannya dengan tuduhan telah mempermainkan dan menghina tentara. Namun alangkah herannya serdadu itu melihat atasannya sangat menghormati orang tua tersebut. Karena memang ia mengenal Ibrahim bin Adham sebagai seorang alim yang amat berpengaruh.

Walau bagaimanapun, komandan tentara dengan nada penyesalan dan kekecewaan, berkata, “Saya menyayangkan sikap tuan selaku orang alim, mengapa mempermainkan anak buah saya?”

Ibrahim bin Adham bertanya tidak mengerti, “Mempermainkan anak buahmu? Dalam hal apa?”

“Ia menanyakan tempat bersenang-senang yang paling indah. Tuan kenapa menunjukkan ke kuburan?”

“Hah? Ia menanyakan pendapat saya. Tentu saja tempat bersenang-senang buat orang setua saya, hanyalah kuburan. Apakah seumur saya ini masih pantas mencari kesenangan di tempat-tempat hiburan?”

Komandan tentara itu terperangah. Terpaksa ia mengakui, Ibrahim bin Adham telah memberikan jawaban yang tepat. Tapi ia masih kurang senang. Hingga ia berkata lagi,
“Andaikata tuan menerangkan dengan jujur siapa tuan sebenarnya, pasti anak buah saya takkan menendang serta menyeret tuan ke mari.”

“Maksudmu?”

“Mengapa tuan mengatakan bahwa tuan, hanya seorang hamba?”

“Apakah saya salah? Dia menanyakan siapa saya. Jadi, siapakah saya ini kecuali seorang hamba Allah? Kau, aku, dia dan kita semua bukankah cuma hamba-hamba Allah belaka? Nama, pangkat dan kedudukan hanyalah embel-embel sementara, yang tidak dapat menghilangkan kenyataan, bahwa kita adalah hamba Allah.”

Makin terperosok komandan itu ke dalam kebenaran yang pahit. Ia tak bisa mengelak, bahwa semua dalih dan penjelasan Ibrahim bin Adham adalah kejujuran paling tuntas dari seorang alim yang tawakal.

Akhirnya dengan sedih ia berkata, “Kalau begitu, maafkanlah kekurangajaran anak buah saya yang telah menendang dan menyeret tuan kemari.”

Ibrahim bin Adham dengan wajah polos menjawab, “Tidak perlu minta maaf dan tidak perlu memaafkan. Sebab sayalah yang harus mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Ah, sekeras itukah hati tuan sehingga tidak mau memberi maaf?” keluh komandan tentara menyesali.

“Bagaimana saya harus memberi maaf jika dia tidak perlu minta maaf? Mengapa dia mesti minta maaf, padahal dia telah membantu saya mengurangi dosa-dosa saya, melipatgandakan simpanan pahala saya dan menyebabkan do’a saya pasti dikabulkan Tuhan?”

“Maksud tuan?” Tanya komandan tentara kebingungan.

“Saya tidak bersalah. Tetapi dia telah menganiaya saya. Berarti saya termasuk orang yang dianiaya. Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa dosa orang yang dianiaya akan dihapus dan do’anya pasti dikabulkan?”

Dengan penjelasan ini, komandan tentara makin tidak dapat berbicara. Ia hanya berjanji dalam hati untuk memarahi anak buahnya supaya bersikap lebih hormat kepada rakyat jelata.

Sumber :
Buku 30 Kisah Teladan 3 oleh KH. Abdurrahman Arroisi

Haramkah Jual Beli Pulsa?

Satu hal yang kita maklumi bersama dalam bab riba, bahwa tukar-menukar mata uang sejenis, misalnya: rupiah, harus memenuhi dua persyaratan. Pertama, tunai; dengan pengertian, sebelum penjual dan pembeli berpisah tempat, masing-masing telah mendapatkan hal yang menjadi haknya. Kedua, nilai dari dua uang tersebut haruslah sama. Artinya, Rp 50.000 hanya boleh ditukar dengan uang yang nilainya Rp 50.000, sehingga Rp 51.000 tidak boleh ditukar dengan Rp 50.000.

Berangkat dari hal ini, ada sebagian orang yang melarang jual beli pulsa. Alasannya, ketika kita beli pulsa, kita menyerahkan Rp 51.000 untuk membeli pulsa Mentari, misalnya, sedangkan kita hanya mendapat Rp 50.000. Ketika kita melakukan cek pulsa di layar handphone (hp) akan tertulis bahwa di dalam hp kita terdapat pulsa lima puluh ribu rupiah.

Dari realita ini, ada orang yang berkesimpulan bahwa jual beli pulsa adalah riba karena dalam transaksi ini, uang Rp 51.000 ditukar dengan Rp 50.000. Jadi, menurut mereka, ada riba fadhl dalam transaksi ini. Benarkah pendapat tersebut?

Jawaban untuk kasus di atas bisa diperoleh dengan mengingat kaidah fikih yang menyatakan bahwa: yang dijadikan tolak ukur dalam transaksi adalah maksud dan makna yang bisa disimpulkan dari transaksi yang dilakukan. Meski setelah mengisi pulsa dikatakan bahwa kita memiliki pulsa sebesar sekian rupiah, bukanlah berarti kita mendapatkan uang sebesar yang tertulis, tetapi kita mendapatkan jasa pelayanan telepon dan sms senilai besaran rupiah yang tercantum di hp kita.

Bukti bahwa transaksi jual beli pulsa bukanlah barter uang dengan uang adalah kita tidak bisa menggunakan kartu yang berisi pulsa Rp 50.000 untuk membeli barang apa pun, di toko mana pun. Jika yang kita dapatkan setelah mengisi pulsa adalah uang, tentu kita bisa mempergunakan kartu yang telah diisi pulsa untuk berjual beli.

Jadi, transaksi riil yang terjadi dalam jual beli pulsa bukanlah "barter uang dengan uang" sehingga bisa kita vonis terjadi riba jika ada selisih. Akan tetapi, yang terjadi adalah pembelian jasa dengan menggunakan uang, sehingga uang untuk membeli pulsa Rp 50.000 boleh jadi adalah sama dengan nilai pulsa, yaitu Rp 50.000, kurang dari Rp 50.000, atau lebih dari Rp 50.000.

Pertanyaan, “Di Aljazair, jika kami ingin mengisi pulsa 100 dinar, penjual meminta kami untuk memberinya tambahan sebesar 10 dinar, sebagai kompensasi atas pengisian pulsa. Apa hukum hal ini?"

Jawaban Syekh Ahmad An-Najmi, “Sepuluh dinar yang diminta oleh penjual pulsa adalah upah penjualan jasa. Jika itu adalah upah penjualan jasa maka hukumnya boleh. Boleh jadi, upah yang diminta penjual pulsa kurang dari sepuluh dinar.”

***

Sumber : http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/1234/haramkah-jual-beli-pulsa